NAMA : MUH.
ARSY SYAFRIN
Malam Seribu Bulan
Matahari mulai meninggi, tapi Jumadi masih bergelung
di tempat tidur.Ia sangat enggan untuk bangun karena Lebaran tinggal sepuluh
hari lagi,dan denyut kemeriahan orang-orang untuk menyambutnya sudah begitu terasa.
DUA hari ia kelayapan mengunjungi mal-mal, pasar-pasar
tradisional, orang-orang yang berbelanja begitu menyemut. Sedangkan aku? Bah!
Aku belum punya apa-apa untuk menyenangkan anak istriku. Jumadi berdegut,
menelan ludah.
Pahitnya ludah karena sedang berpuasa, sepahit jalan
hidup yang kini tengah ia lakoni. Karena sudah hampir setahun ini ia jadi
pengangguran.Dan karena itu pula ia merasa sangat sedih. Untuk menghilangkan
rasa sedih itulah, Jumadi mencoba mengalihkannya dengan tidur sepanjang hari.
Tapi baru saja ia menarik sarung untuk menutupi
tubuhnya agar tidurnya lebih nyaman, pintu kamar tidurnya dibuka dengan kasar,
bersamaan dengan itu terdengar pula istrinya berseru: ”Mas, bangun dong, Mas!
Jalan sana, cari kerja. Jangan molor melulu. Mumpung masih ada waktu.Jangan
sampai Lebaran nanti kita tidak membuat ketupat sayur. Malu Mas, maluu… sama
tetangga,” sang istri ngomel panjang lebar sambil menimang-nimang anaknya yang
terkecil, yang baru berusia sepuluh bulan.
Sesaat emosi Jumadi meluap.Tapi ketika ia menatap
wajah istrinya yang kurus dan pucat, rasa marah itu lumer, berganti dengan rasa
iba. Bahkan ia merasa berdosa, karena tak dapat menafkahi istri dan ketiga
anaknya secara layak. Ia pun merasa, tuntutan istrinya itu wajar adanya.
Perlahan-lahan Jumadi bangkit dari tidur.
Perlahan-lahan pula ia menggerakgerakkan tubuh untuk
menghilangkan rasa pegal karena terlalu banyak tidur.Kemudian, ia melangkah ke
teras depan rumah. Ia duduk di kursi bambu yang sudah reyot. Tatapannya
menerawang ke depan, membentur bangunan-bangunan gedung yang kukuh dan mencakar
langit.Jumadi menghela napas berat.Hatinya serasa teriris.”Ya Allah, mengapa
harus ada orang yang terlalu kaya, ketika masih teramat banyak orang yang
terlalu miskin?”keluhnya.
Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling: Rumah-rumah
berdempetdempet, berdinding tripleks yang koyakmoyak. Beratap tambal sulam,
antara genting dan potongan-potongan seng bekas. Dikelilingi got-got
mandek.Kumuh. Sedangkan di depan sana, di pinggir jalan protokol, gedung-gedung
perkantoran berdiri megah. Angkuh! Tak pernah sekali pun Jumadi berhasil
memasuki salah satu gedung yang mewah itu.
Pernah sekali tempo Jumadi melamar kerja di salah satu
perusahaan yang berkantor di sebuah gedung yang megah itu, karena ia mendengar
dari salah satu tetangganya ada lowongan. Tapi baru memasuki lantai dasar,
langkahnya sudah ditahan satpam. ”Keperluan Bapak?” tanya satpam, galak.
”Melamar kerja, Pak,” jawab Jumadi sesopan mungkin. ”Di sini tak ada
lowongan,”suara satpam tetap galak.
”Tapi saya dengar ada lowongan, Pak,” Jumadi menyebut
nama sebuah perusahaan. Sang satpam mengangguk-angguk. ”Boleh Pak, saya menemui
pimpinan perusahaan itu?” suara Jumadi penuh permohonan. ”Oh maaf Pak, hal itu
tidak diperbolehkan oleh peraturan di gedung ini,” kali ini suara satpam
sedikit lunak. ”Silakan lamaran Bapak tinggal di sini, dan tunggu panggilan.”
Tak ada pilihan lain bagi Jumadi.
Dengan terpaksa ia menuruti kehendak sang satpam.Tapi
sampai kini, setelah tiga bulan berlalu panggilan kerja itu tak kunjung tiba!
Ingat akan hal itu dada Jumadi serasa sesak.Kesal. Muak! Jumadi menghentakkan
kakinya ke lantai yang terbuat dari semen. Kerja! Alangkah sulit didapat.
Padahal, ia pernah kuliah di Akademi Perindustrian.
Pengalaman kerja ia punya, karena ia pernah bekerja di pabrik sepatu sebagai
kepala bagian produksi.Tapi hal itu rupanya bukan jaminan untuk dengan mudah
kembali mendapatkan kerja.Semua pabrik dan kantor yang ia datangi untuk melamar
kerja selalu menolak dengan bahasa yang sama: ”Belum ada lowongan. Karena
krisis belum berakhir…’’
” Krisis! Krisis! Kapan krisis akan berakhir di negeri
ini?! Jumadi menghela napas panjang. Kini rasa sesal memenuhi rongga dadanya.
Menyesali sikapnya dulu yang memimpin teman-temannya berunjuk rasa menuntut
kenaikan gaji.Dan karena hal itu, ia dipecat dari tempatnya bekerja. ”Selamat
siang,Pak Jumadi,” sebuah suara tiba-tiba mengejutkan lamunannya. Jumadi
tergagap kaget.
”Oh, Pak Ayub,” Jumadi berusaha tersenyum.”Mau ke
mana,Pak, kok kelihatan rapi?” ”Ah, nggak ke mana-mana. Mau ngontrol
rumah-rumah ini saja.Takut ada yang bocor.Sudah hampir Lebaran,ya?” Jumadi
tersenyum kecut.Ucapan Pak Ayub itu jelas mengingatkannya: Bahwa selesai
Lebaran nanti habis sudah masa kontrak rumah yang ia tempati. Itu artinya: ia
harus menyediakan uang Rp750.000 jika masih ingin menempati rumah petak itu.
***
Belum lama Pak Ayub berlalu, dengan berlari-lari
muncul kedua anaknya,Agus dan Budi. Dengan napas masih terengahengah, keduanya
menceritakan bahwa teman- teman mereka sudah pada dibelikan baju baru,celana
baru,dan sepatu baru. ”Baju Angga bagus sekali, Pak. Ada gambar Spiderman-nya.
Belinya di Pasar Minggu.Budi belikan baju seperti itu ya, Pak?” kata anaknya
yang kedua sambil menarik-narik lengan bajunya. Jumadi terdiam.
Dadanya serasa tertohok. Ia tak tahu jawaban apa yang
harus diberikan pada anaknya, sosok kecil yang belum mengerti nasib dan
penderitaan hidupnya. ”Kapan Budi dibelikan baju untuk Lebaran,Pak?” tanya anak
itu lagi. ”Beli sekarang saja, Pak,” timpal Agus,anaknya yang pertama.
”Iya,Pak. Lebaran kan tinggal sebentar lagi?” sambung Budi dengan suara sedikit
merengek.
”Sabar ya, Nak. Sabaarr…,” Jumadi mengelus-elus kepala
kedua anaknya. ”Besok Bapak belikan. Sekarang kalian main lagi, sana!” Kedua
bocah itu mengangguk puas. Lalu kembali berlari,bergabung dengan teman-temannya
bermain petak umpet. *** Seminggu menjelang Lebaran, Jumadi sengaja datang ke
pabrik sepatu bekas tempatnya bekerja dulu.
Hampir sembilan tahun bekerja mengabdi di pabrik
sepatu itu, ia tahu persis; tunjangan hari raya selalu dibagikan seminggu
menjelang Lebaran.Jumadi membuang jauhjauh rasa malu dari hatinya.Ia akan
mencoba pinjam uang pada bekas rekan-rekan kerjanya, terutama pada Karjo yang
dulu merupakan sahabat kentalnya. Tapi Jumadi hanya bisa gigit jari. Uang
pinjaman itu tak ia dapatkan.
Menurut bekas rekan-rekan kerjanya, THR tahun ini
hanya dibayar separuh dari yang biasa mereka terima, dengan alasan perusahaan
merugi, akibat krisis yang masih membelenggu negeri ini. Jumadi terpekur.
Wajahnya menyiratkan rasa putus asa yang dalam. Sebagai sahabat lama,Karjo
merasa iba. Tapi ia hanya bisa memberi saran.
”Dulu kau pernah bilang, punya saudara sepupu yang
cukup berhasil di Bogor. Karena dia punya bengkel motor dan usaha kios di
pasar. Mengapa tak kau coba minta tolong padanya, Jum?” kata Karjo hati-hati,
mencoba menyelami perasaan Jumadi. Jumadi mengangkat wajah, menatap sahabat
lamanya itu, lekat-lekat.
”Wah,benar saranmu itu,Jo,”senyum Jumadi. Ada pijar
harapan di bola matanya. ”Ya akan kucobalah, walau sesungguhnya antara aku dan
dia ada sedikit perselisihan.” Karjo menyelipkan selembar uang dua puluh ribuan
di telapak tangan kanan Jumadi. Dan dengan uang itu Jumadi pergi ke Bogor.
Tanpa banyak basa-basi, di hadapan Respati, saudara sepupunya itu, Jumadi
mengutarakan keluh kesahnya.
Tapi Respati hanya tertawa mendengar penuturan
Jumadi,tawa mengejek,yang membuat Jumadi semakin merasa tertohok. ”Jum, Jum,
waktu sekolah dulu kau mengejekku. Sekolah STM adalah sekolah calon kuli. Dan
kau katakan pula, menelan mentah-mentah wejanganwejangan para ulama di desa
kita, sama dengan percaya ilmu klenik. Sekarang hasilnya?” Respati kembali
tertawa. Jumadi diam, tak bereaksi.
”Makanya, jadi orang itu jangan terlalu sombong.
Usaha, ikhtiar itu wajib. Tapi, minta bantuan orang pintar itu juga perlu. Kau
tahu, keberhasilan yang aku dapat sekarang ini,adalah berkat dari hasil usaha,
kerja keras serta bantuan orang-orang pintar,” Respati berkhotbah panjang
lebar. Jumadi masih membisu.
”Aku hanya bisa mengingatkanmu,” kata Respati pula.
”Di antara malammalam ganjil menjelang Lebaran, ada satu malam yang disebut
malam lailatul kadar.Malam yang penuh rahmat,malam seribu bulan.Sekarang masih
ada kesempatan. Cobalah kau berdoa di alam terbuka, lebih baik lagi di tepi
pantai. Siapa tahu akan kau dapatkan rahmat malam lailatul kadar itu…” ***
Malam 27 Ramadan. Langit Jakarta rata tertutup awan
hitam.Angin bertiup kencang, mengiris alam, meningkah malam. Sedangkan kilat
dan halilintar saling bersahutan, sebagai pertanda hujan yang deras akan segera
mengguyur bumi. Tapi hal itu tak dihiraukan Jumadi. Mengenakan peci hitam dan
tasbih tergenggam di tangan kanan, ia siap keluar rumah.Diam-diam Jumadi memang
telah termakan oleh saran dari Respati.
”Mau pergi ke mana Mas, malam mendung begini?” tegur
istrinya. ”Mau ke tepi pantai Ancol, berdoa, menunggu datangnya rahmat malam
lailatul kadar,” kata Jumadi mantap. ”Jangan mengkhayal, Mas. Malam lailatul
kadar hanya diturunkan Allah bagi orang yang menjalankan ibadah puasa dan
amalan-amalan sunah dengan baik selama Ramadan. Puasa saja nggak bener. Berapa
kali kau batal? Tarawih juga hanya tiga kali, kok ingin dapat rahmat malam
lailatul kadar!”
”Sudah, jangan berkhotbah!” suara Jumadi meninggi.
Sang istri diam. Ia telah hafal tabiat suaminya, yang tak bisa dibantah kalau
sudah punya kemauan. Sampai di tepi pantai, hujan turun dengan lebatnya.
Halilintar saling bersahutan. Tapi Jumadi tak gentar. Dengan khusyuk, ia baca
wirid sebisanya dengan hitungan tasbih yang berputar di tangan kanannya.
Setelah dirasa cukup,Jumadi menadahkan kedua belah
telapak tangannya, berdoa dengan bahasa yang paling ia pahami, memohon turunnya
rahmat pada Yang Mahakuasa. Entah berapa lama ia melakukan hal itu.Tubuhnya
telah bergetar, menggigil tanpa ia sadari. Sampai tiba-tiba ada sebuah Xenia
berhenti di dekatnya. Dengan kaca pintu sedikit terbuka, pengendara Xenia itu
berteriak-teriak menegur Jumadi.Tapi Jumadi tak mendengar.
Pada panggilan kesepuluh, baru Jumadi sadar, ada orang
yang menyapanya. Ia pun segera menengok menatap pengendara Xenia itu. ”Bapak
sedang apa?” tanya pengendara Xenia. ”Berdoa, menunggu lailatul kadar,” sahut
Jumadi. ”Kenapa Bapak melakukannya di tepi pantai saat hujan lebat begini?”
”Karena saya yakin, di tepi pantailah lailatul kadar akan turun.Dan saya ingin
sekali mendapatkannya. Lebaran tinggal tiga hari lagi, sedangkan saya belum
punya persiapan apa pun untuk anakanak dan istri saya.”
Lelaki pengendara Xenia itu terdiam. Rasa iba melumuri
hatinya. ”Kalau begitu mari ikut ke rumah saya, Pak,” katanya kemudian.
”Mungkin saya dapat memberi sesuatu yang Bapak perlukan untuk menyambut Lebaran
nanti.” Tanpa berpikir dua kali, Jumadi menuruti ajakan pengendara Xenia itu.
Dan dalam hati ia bersyukur, tapi juga bertanya-tanya: ”Inikah yang disebut
malam lailatul kadar itu? Malam Seribu bulan itu? Inikah…??”
Analisis
Unsur Intrinsik
1.
Tema : Ketekunan
2. Watak
a. Jumadi
1) Pemalas :
Matahari mulai
meninggi, tapi Jumadi masih bergelung di tempat tidur.
2) Teguh pada pendirian :
Langit Jakarta
rata tertutup awan hitam.Angin bertiup kencang, mengiris alam, meningkah malam.
Sedangkan kilat dan halilintar saling bersahutan, sebagai pertanda hujan yang
deras akan segera mengguyur bumi. Tapi hal itu tak dihiraukan Jumadi.
3) Keras kepala :
Ia telah hafal tabiat
suaminya, yang tak bisa dibantah kalau sudah punya kemauan.
b. Istri Jumadi
1) Pengertian :
”Mau pergi ke
mana Mas, malam mendung begini?” tegur istrinya.
c. Satpam
1) Galak :
Tapi baru
memasuki lantai dasar, langkahnya sudah ditahan satpam. ”Keperluan Bapak?”
tanya satpam, galak.
d. Pak Ayub
1) Penyindir :
Sudah hampir
Lebaran,ya?” Jumadi tersenyum kecut.Ucapan Pak Ayub itu jelas mengingatkannya:
Bahwa selesai Lebaran nanti habis sudah masa kontrak rumah yang ia tempati.
e. Agus dan Budi
1) Manja :
Budi belikan
baju seperti itu ya, Pak?” kata anaknya yang kedua sambil menarik-narik lengan
bajunya. Jumadi terdiam.
Dadanya serasa
tertohok. Ia tak tahu jawaban apa yang harus diberikan pada anaknya, sosok
kecil yang belum mengerti nasib dan penderitaan hidupnya. ”Kapan Budi dibelikan
baju untuk Lebaran,Pak?” tanya anak itu lagi. ”Beli sekarang saja, Pak,” timpal
Agus,anaknya yang pertama. ”Iya,Pak. Lebaran kan tinggal sebentar lagi?”
sambung Budi dengan suara sedikit merengek.
f.
Karjo
1) Pengertian :
Karjo merasa
iba. Tapi ia hanya bisa memberi saran.
g. Respati
1) Sombong :
Tapi Respati
hanya tertawa mendengar penuturan Jumadi,tawa mengejek,yang membuat Jumadi
semakin merasa tertohok.
h. Pengendara Xenia
1) Baik :
Lelaki
pengendara Xenia itu terdiam. Rasa iba melumuri hatinya. ”Kalau begitu mari
ikut ke rumah saya, Pak,” katanya kemudian. ”Mungkin saya dapat memberi sesuatu
yang Bapak perlukan untuk menyambut Lebaran nanti.”
3. Alur : Campuran
Menyesali sikapnya dulu yang memimpin teman-temannya
berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji.Dan karena hal itu, ia dipecat dari
tempatnya bekerja.
****lalu kembali ke cerita.
4.
Latar
a. Tempat
1) Di rumah :
a) Matahari mulai meninggi, tapi Jumadi masih bergelung di tempat tidur.
b) Kemudian, ia melangkah ke teras depan rumah.
2) Di tepi pantai
:
Sampai di
tepi pantai, hujan turun dengan lebatnya.
b. Waktu
1) Siang hari
Matahari mulai
meninggi, tapi Jumadi masih bergelung di tempat tidur.
2) Malam hari
”Mau pergi ke
mana Mas, malam mendung begini?” tegur istrinya.
c. Suasana
1) Memprihatinkan
Ia menyapukan
pandangannya ke sekeliling: Rumah-rumah berdempetdempet, berdinding tripleks
yang koyakmoyak. Beratap tambal sulam, antara genting dan potongan-potongan
seng bekas. Dikelilingi got-got mandek.Kumuh.
2) Menyedihkan
Setelah dirasa
cukup,Jumadi menadahkan kedua belah telapak tangannya, berdoa dengan bahasa
yang paling ia pahami, memohon turunnya rahmat pada Yang Mahakuasa. Entah
berapa lama ia melakukan hal itu.Tubuhnya telah bergetar, menggigil tanpa ia
sadari.
5. Sudut pandang :
orang ketiga serba tahu
Dan dalam hati ia bersyukur, tapi juga bertanya-tanya:
”Inikah yang disebut malam lailatul kadar itu? Malam Seribu bulan itu?
Inikah…??”
6. Amanat
a.
Kita harus bekerja keras.
b. Kita harus saling tolong menolong.
c.
Berusaha itu penting.
7. Gaya bahasa : menggunakan majas innuendo (Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta
sesungguhnya).
”Oh, Pak Ayub,”
Jumadi berusaha tersenyum.”Mau ke mana,Pak, kok kelihatan rapi?” ”Ah, nggak ke
mana-mana. Mau ngontrol rumah-rumah ini saja.Takut ada yang bocor.Sudah hampir
Lebaran,ya?” Jumadi tersenyum kecut.Ucapan Pak Ayub itu jelas mengingatkannya:
Bahwa selesai Lebaran nanti habis sudah masa kontrak rumah yang ia tempati.
unsur eksterinsik
a. nilai sosial
-
karjo merasa iba melihat wajah jumasi putus asa tapi
karjo hanya bisa memberi saran kepada teman dekatnya itu..
b. nilai agama
-
hujan turun dengan lebatnya. Halilintar saling
bersahutan. Tapi Jumadi tak gentar. Dengan khusyuk, ia baca wirid sebisanya
dengan hitungan tasbih yang berputar di tangan kanannya. Setelah dirasa
cukup,Jumadi menadahkan kedua belah telapak tangannya, berdoa dengan bahasa
yang paling ia pahami, memohon turunnya rahmat pada Yang Mahakuasa.
C. NILAI MORAL
- Pernah sekali tempo Jumadi melamar
kerja di salah satu perusahaan yang berkantor di sebuah gedung yang megah itu,
karena ia mendengar dari salah satu tetangganya ada lowongan. Tapi baru
memasuki lantai dasar, langkahnya sudah ditahan satpam. ”Keperluan Bapak?”
tanya satpam, galak. ”Melamar kerja, Pak,” jawab Jumadi sesopan mungkin. ”Di
sini tak ada lowongan,”suara satpam tetap galak.
”Tapi saya dengar ada lowongan, Pak,” Jumadi menyebut
nama sebuah perusahaan. Sang satpam mengangguk-angguk. ”Boleh Pak, saya menemui
pimpinan perusahaan itu?” suara Jumadi penuh permohonan. ”Oh maaf Pak, hal itu
tidak diperbolehkan oleh peraturan di gedung ini,” kali ini suara satpam
sedikit lunak. ”Silakan lamaran Bapak tinggal di sini, dan tunggu panggilan.”
Tak ada pilihan lain bagi Jumadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar